ETIKA PERSAINGAN DAN MEMBANGUN JARINGAN USAHA
MAKALAH
ETIKA PERSAINGAN DAN MEMBANGUN JARINGAN USAHA
Disusun Oleh:
SHINTA MURNI 2230404178
Dosen Pengampu:
Tezi Asmadia, M. E.
Sy
PROGRAM
STUDI MANAJEMEN BISNIS SYARIAH
FAKULTAS
EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
UNIVERSITAS
ISLAM NEGERI MAHMUD YUNUS BATUSANGKAR
2025
KATA
PENGANTAR
Puji
dan syukur pemakalah ucapkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan nikmat dan
kesempatan sehingga pemakalah dapat menyelesaikan makalah dengan judul ETIKA PERSAINGAN DAN MEMBANGUN JARINGAN USAHA
dapat terselesaikan. Penyusunan makalah ini bertujuan untuk memenuhi
tugas agar dapat bermanfaat bagi pembaca.
Kesempatan
kali ini, pemakalah sebagai penyusun makalah mengucapkan terima kasih kepada
Ibuk Tezi Asmadia, M. E. Sy selaku
dosen pengampu mata kuliah Etika Bisnis Syariah yang sudah memberikan tugas ini
kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar dan
tepat waktu.
Dalam penyusunan makalah ini, pemakalah banyak
mendapat tantangan dan hambatan akan tetapi dengan bantuin dari berbagai pihak
tantangan itu bisa teratasi. Olehnya itu, pemakalah mengucapkan terima kasih
yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan
makalah ini, semoga bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan yang
Maha Esa.
Pemakalah menyadari bahwa dalam proses
pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan baik dari segi
tulisan maupun penulisan kata. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan
saran dari pembaca yang bersifat membangun kebaikan dimasa yang akan datang.
Batusangkar, 28
April 2025
Pemakalah
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Sejarah panjang dalam hidup Muhammad
sebagai seorang pebisnis dalam sektor perdagangan memberikan suri teladan bagi
umat manusia secara umum. Julukan al-amin yang disandang beliau merupakan bukti
bahwa Muhammad orang yang sudah diakui kredibelitasnya di masyarakat Arab
sebagai sosok yang luar biasa. Muhammad memang pribadi yang kompleks, selain
predikatnya sebagai orang jujur beliau peroleh, ia juga sebagai seorang nabi
dan rasul.
Predikat Muhammad sebagai al-amin,
menjadi modal utama dan rahasia sukses beliau menjalankan aktifitas dagangnya.
Tercatat dalam berbagai literatur bahwa sejak kecil Muhammad sudah terkondisikan
oleh alam dan keadaan keluarga maupun masyarakat sebagai seorang pejuang.
Berangkat dari kepribadian beliau maka lahirlah tuntunan atau teladan yang bisa
dijadikan masyarakat di zaman sekarang untuk sebagai pelajaran.
B.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
etika dan manajemen pemasaran Nabi Muhammad SAW?
2. Bagaiamana
etika persaingan (pihak-pihak yang bersaing, cara bersaing, prduk yang
dipersaingkan)?
3. Bagaiamana
membangun jaringan usaha (faktor-faktor pembentukan jaringan usaha, pola
hubungan, memantapkan relasi)?
C.
Tujuan
1. Untuk
mendeskripsikan etika dan manajemen pemasaran Nabi Muhammad SAW.
2. Untuk
mendeskripsikan etika persaingan (pihak-pihak yang bersaing, cara bersaing,
prduk yang dipersaingkan).
3. Untuk
mendeskripsikan membangun jaringan usaha (faktor-faktor pembentukan jaringan
usaha, pola hubungan, memantapkan relasi).
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Etika
dan Manajemen Pemasaran Nabi Muhammad SAW
Predikat Muhammad sebagai al-amin,
menjadi modal utama dan rahasia sukses beliau menjalankan aktifitas dagangnya.
Tercatat dalam berbagai literatur bahwa sejak kecil Muhammad sudah
terkondisikan oleh alam dan keadaan keluarga maupun masyarakat sebagai seorang
pejuang. Berangkat dari kepribadian beliau maka lahirlah tuntunan atau teladan
yang bisa dijadikan masyarakat di zaman sekarang untuk sebagai pelajaran.
Jujur dalam menjelaskan produk
merupakan etika bisnis yang selalu dilakukannya. Kejujuran Muhammad sudah
diakui, beliau adalah manusia yang paling jujur di dunia. Beliau selalu mengatakan
dengan jujur produk/barang yang didagangkannya, jika barang itu rusak atau
jelek, beliau akan mengatakan kerusakan atau kejelekan barang tersebut. Sangat
jarang pedagang yang berani berkata jujur perihal kualitas barang dagangannya.
Kejujuran menjadi kunci utama dalam
praktek bisnis Muhammad, kejujuran yang Muhammad praktekkan adalah dengan
menyampaikan kondisi riil barang dagangannya. insip jujur dalam menjelaskan
produk yang dipraktekkan Muhammad kalau kita tarik ke dalam prinsip etika
bisnis modern samadengan prinsip etika bisnis modern yang dijelaskan oleh Sonny
Keraf. Dalam prinsipnya etika bisnis memegang prinsip kejujuran. Kejujuran
etika bisnis Muhammad dalam hal ini, lebih terspesifikasi dalam kejujuran yang
terwujud dalam mutu barang atau jasa yang ditawarkan dalam etika bisnis modern.
Kejujuran merupakan tonggak dalam
kehidupan masyarakat yang beradab. Kejujuran berarti apa yang dikatakan
seseorang itu sesuai dengan hati nuraninya. Jujur dapat pula diartikan
seseorang yang bersih hatinya dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama
dan hukum. Orang yang menepati janji atau menepati kesanggupan, baik yang telah
terlahir dalam kata-kata maupun yang masih dalam hati dapat dikatakan jujur.
Sedangkan bagi orang yang tidak menepati janji maka orang tersebut dikatakan
tidak jujur. Setiap orang hendaknya dapat bersikap jujur karena kejujuran dapat
mendatangkan ketenteraman hati, menghilangkan rasa takut, dan mendatangkan
keadilan.
Keadilan merupakan perlakukan yang
seimbang, dalam bisnisnya Muhammad selalu menerapkan keseimbangan. Barang yang
kering bisa ditukar dengan barang yang kering. Penukaran barang kering tidak
boleh dengan barang yang basah. Demikian juga dalam penimbangan tersebut seseorang
tidak boleh mengurangi timbangan. Dalam transaksi Muhammad menjauhi apa yang
disebut dengan muzabana dan muzaqala.
Dalam melakukan pemasaran Muhammad
benar-benar menguasai sasarannya, yaitu bagaimana ia bisa menguasai benak
konsumen. Oleh karena itu penulis mencoba memotret konsep pemasaran secara umum
yang dilakukan Muhammad dengan kaca mata konsep marketing pada umumnya.
Diantaranya dengan mind share, market share, dan heart share Sebagai bisnisman
ulung, Muhammad memahami betul bagaimana ia harus menancapkan dalam-dalam di
otak konsumen akan produknya. Inilah yang tercakup dalam mind share, bagaimana
kita ingin diingat di hati konsumen. Hal ini tercakup dalam sebuah strategi
yang di dalamnya terdapat proses segmenting, targeting, dan positioning.
Segmentasi dalam pemasaran adalah cara membagi pasar berdasarkan pada
variabel-variabel tertentu seperti faktor geografi, demografi, perilaku dan
akhirnya variabel terkecil yaitu individu. Segmentasi yang berkesinambungan
menjadi penting bagi sebuah perusahaan untuk dapat memenuhi kebutuhan (need)
dan keinginan (want) pasar yang selalu berubah-ubah.(Adzkiya’ 2017)
B.
Etika
Persaingan (pihak-pihak yang bersaing, cara bersaing, produk yang di
persaingkan)
Persaingan merupakan elemen yang
tidak dapat dihindari dalam dunia bisnis. Ia menjadi pendorong utama dalam
meningkatkan kualitas produk, efisiensi kerja, serta inovasi perusahaan. Namun,
dalam praktiknya, persaingan yang tidak sehat justru dapat merugikan konsumen,
pelaku usaha, bahkan stabilitas pasar secara keseluruhan. Oleh karena itu,
penting untuk memahami dan menerapkan etika persaingan
sebagai pedoman dalam menjalankan aktivitas bisnis secara adil dan bertanggung
jawab.
Pihak-pihak
yang Bersaing.(Bertens 2000)
Dalam
konteks bisnis, pihak-pihak yang bersaing umumnya adalah perusahaan-perusahaan yang berada dalam
industri yang sama atau menyediakan produk substitusi. Contohnya adalah
persaingan antara perusahaan teknologi seperti Apple dan Samsung dalam industri
smartphone, atau antara Unilever dan P&G dalam industri barang konsumen.
Selain itu, pelaku usaha kecil dan
menengah (UMKM) juga terlibat dalam persaingan pasar lokal maupun
regional. Pemerintah sebagai regulator dan konsumen sebagai pengguna akhir juga
termasuk pihak yang terpengaruh oleh dinamika persaingan.
Cara-cara Bersaing
Etika
dalam bersaing mengacu pada cara-cara bersaing yang
jujur, adil, dan tidak merugikan pihak lain secara tidak wajar.
Cara bersaing yang etis antara lain:
1. Inovasi produk dan layanan untuk memenuhi kebutuhan
konsumen.
2. Peningkatan kualitas dan efisiensi dalam proses
produksi.
3. Strategi harga yang kompetitif tanpa praktik
predator (predatory pricing).
4. Pemasaran yang jujur dan tidak menyesatkan.
5. Menghindari pencemaran nama baik pesaing,
sabotase produk, atau pembajakan tenaga kerja secara tidak etis.
6.
Produk yang Dipersaingkan
Produk yang menjadi objek persaingan
bisa berupa:
1. Barang
konsumsi (seperti makanan, minuman,
elektronik, kosmetik).
2. Jasa (seperti layanan keuangan,
transportasi, teknologi informasi).
3. Produk
digital (seperti aplikasi, platform media
sosial, dan perangkat lunak).
4. Persaingan tidak hanya terjadi pada
aspek fungsional produk, tetapi juga menyangkut merek, citra perusahaan, layanan purna jual, dan nilai tambah lainnya.
Dalam pasar bebas, perusahaan dituntut untuk terus berinovasi guna
mempertahankan daya saing produk mereka.(Handoko
2003)
C.
Membangun
jaringan usaha (faktor-faktor pembentukan jaringan usaha, pola hubungan,
memantapkan relasi)
Dalam
dunia bisnis yang dinamis dan kompetitif, keberhasilan sebuah usaha tidak hanya
ditentukan oleh keunggulan produk atau kekuatan modal, tetapi juga oleh
kemampuan pelaku usaha dalam membangun dan mengelola
jaringan usaha (business networking). Jaringan usaha memungkinkan pelaku bisnis untuk saling mendukung,
bertukar informasi, menjalin kemitraan strategis, dan memperluas pangsa pasar.
Oleh karena itu, membangun jaringan usaha menjadi strategi penting untuk
mempertahankan eksistensi dan meningkatkan daya saing usaha.(Teguh
2004)
Faktor-faktor
Pembentukan Jaringan Usaha
Pembentukan
jaringan usaha dipengaruhi oleh beberapa faktor penting, yaitu:
1. Kebutuhan
Saling Ketergantungan
Dalam bisnis, tidak ada perusahaan yang
dapat berdiri sendiri. Adanya kebutuhan terhadap bahan baku, distribusi,
informasi pasar, hingga teknologi mendorong pelaku usaha untuk membentuk
jaringan agar saling mengisi kekurangan masing-masing.
2. Tujuan
Pengembangan Usaha
Pelaku usaha membentuk jaringan untuk
memperluas pasar, meningkatkan efisiensi produksi, serta mengembangkan produk
dan layanan. Jaringan menjadi media untuk mempercepat pertumbuhan bisnis secara
kolaboratif.
3. Kesamaan
Visi dan Nilai
Jaringan usaha lebih mudah terbentuk
apabila para anggotanya memiliki visi, nilai, dan etika bisnis yang sejalan.
Hal ini akan memudahkan koordinasi dan membangun kepercayaan.
4. Ketersediaan
Sumber Daya dan Teknologi
Teknologi, terutama digital, mempermudah
pelaku usaha dalam menjalin dan mempertahankan jaringan bisnis, baik lokal
maupun global
Pola Hubungan dalam Jaringan Usaha
Dalam jaringan usaha, terdapat beberapa
pola hubungan yang umum terbentuk, antara lain:
1. Hubungan
Vertikal
Hubungan ini terjadi antara perusahaan
dengan pemasok (supplier) dan distributor. Tujuannya adalah menciptakan rantai
pasokan yang efisien dan terintegrasi.
2. Hubungan
Horizontal
Pola ini terjalin antara
perusahaan-perusahaan yang berada dalam level yang sama, misalnya sesama produsen
atau sesama penyedia jasa. Kerja sama dapat berupa aliansi strategis atau
konsorsium.
3. Hubungan
Kooperatif
Hubungan ini ditandai dengan kolaborasi
antar pelaku usaha untuk menciptakan nilai bersama. Contohnya adalah kerja sama
dalam riset dan pengembangan produk.
4. Hubungan
Kompetitif Kolaboratif (Co-opetition)
Dalam model ini, dua pihak yang sebenarnya
bersaing tetap menjalin kerja sama dalam bidang tertentu, misalnya dalam
penggunaan teknologi bersama.
Memantapkan Relasi dalam Jaringan Usaha
1. Membangun
jaringan tidak cukup hanya sampai pada tahap pembentukan, tetapi perlu upaya
untuk memantapkan relasi agar jangka panjang dan saling menguntungkan. Beberapa
langkah yang bisa dilakukan antara lain:
2. Menjaga
Komunikasi yang Efektif dan Terbuka
Komunikasi adalah fondasi dari hubungan
yang sehat dalam jaringan usaha. Pelaku usaha harus transparan dan responsif
terhadap mitra bisnisnya.
3. Menjaga
Kepercayaan dan Reputasi
Reputasi adalah aset penting. Sekali
kehilangan kepercayaan, maka relasi dalam jaringan bisa runtuh. Oleh karena
itu, integritas, komitmen, dan kejujuran harus menjadi prinsip utama.
4. Memberikan
Nilai Tambah bagi Mitra
Pelaku usaha sebaiknya tidak hanya fokus
pada keuntungan pribadi, tetapi juga berupaya memberikan manfaat nyata bagi
mitra bisnisnya, seperti berbagi informasi pasar, inovasi produk, atau peluang
kerja sama.
5. Aktif
dalam Forum atau Komunitas Bisnis
Keikutsertaan dalam asosiasi, pameran,
atau seminar bisnis dapat memperluas jaringan dan meningkatkan visibilitas
usaha di mata pelaku industri lain.(Kotler, P. & Keller 2009)
BAB
III
PENUTUP
SIMPULAN
Jujur
dalam menjelaskan produk merupakan etika bisnis yang selalu dilakukannya.
Kejujuran Muhammad sudah diakui, beliau adalah manusia yang paling jujur di
dunia. Beliau selalu mengatakan dengan jujur produk/barang yang didagangkannya,
jika barang itu rusak atau jelek, beliau akan mengatakan kerusakan atau
kejelekan barang tersebut. Sangat jarang pedagang yang berani berkata jujur
perihal kualitas barang dagangannya.
Etika
persaingan menjadi landasan penting dalam menjaga kesehatan ekosistem bisnis.
Persaingan yang sehat dan etis mendorong pertumbuhan ekonomi yang adil,
inovatif, dan berkelanjutan. Pelaku usaha harus menyadari bahwa keberhasilan
jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh dominasi pasar, tetapi juga oleh
integritas dalam berbisnis. Oleh karena itu, prinsip-prinsip etika harus
dijadikan panduan dalam setiap strategi dan tindakan bersaing.
Membangun jaringan usaha merupakan salah satu pilar penting dalam kesuksesan bisnis modern. Dengan jaringan yang kuat dan terpercaya, pelaku usaha dapat mengatasi tantangan pasar, memperluas jangkauan usaha, dan meningkatkan daya saing. Namun, keberhasilan jaringan usaha tidak hanya ditentukan oleh kuantitas relasi, tetapi lebih pada kualitas hubungan yang dibangun atas dasar kepercayaan, kolaborasi, dan nilai bersama. Oleh karena itu, penting bagi pelaku usaha untuk memahami dinamika jaringan dan berkomitmen untuk terus mengembangkannya secara berkelanjutan
DAFTAR
PUSTAKA
Adzkiya’,
U. 2017. “Etika Bisnis Dalam Islam (Analisis Terhadap Aspek Moralitas Pelaku
Bisnis).” Jurnal: Iqtisad Reconstruction of justice and welfare for
Indonesia 4 (1): 1–10.
Bertens,
K. 2000. Etika. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Handoko,
T. H. 2003. Manajemen. Ygyakarta: BPFE.
Kotler,
P. & Keller, K. L. 2009. Manajemen Pemasaran. Jakarta: Erlangga.
Teguh,
S. 2004. Manajemen Kewirausahaan. Ygyakarta: Andi.
Komentar
Posting Komentar