MAKALAH ETIKA, MORAL DAN AKHLAK

 

MAKALAH

ETIKA, MORAL DAN AKHLAK




 

Disusun Oleh:

SHINTA MURNI                   2230404178

 

 

 

Dosen Pengampu:

Tezi Asmadia, M. E. Sy

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI MANAJEMEN BISNIS SYARIAH

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MAHMUD YUNUS BATUSANGKAR

2024

 


KATA PENGANTAR

            Puji dan syukur pemakalah ucapkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan nikmat dan kesempatan sehingga pemakalah dapat menyelesaikan makalah dengan judul ETIKA, MORAL DAN AKHLAK dapat terselesaikan. Penyusunan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas agar dapat bermanfaat bagi pembaca.

            Kesempatan kali ini, pemakalah sebagai penyusun makalah mengucapkan terima kasih kepada Ibuk Tezi Asmadia, M. E. Sy selaku dosen pengampu mata kuliah Etika Bisnis Syariah yang sudah memberikan tugas ini kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan lancar dan tepat waktu.

Dalam penyusunan makalah ini, pemakalah banyak mendapat tantangan dan hambatan akan tetapi dengan bantuin dari berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi. Olehnya itu, pemakalah mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan yang Maha Esa.

Pemakalah menyadari bahwa dalam proses pembuatan makalah ini masih banyak kekurangan dan kesalahan baik dari segi tulisan maupun penulisan kata. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang bersifat membangun kebaikan dimasa yang akan datang.

                                                                             

 

 

                                                                                                                          Batusangkar, 06 Maret 2025

 

                                                                                                                      Pemakalah

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

            Belakangan ini, telah muncul gejala yang kurang baik yang menimbulkan kegoncangan dalam kehidupan keluarga, masyarakat dan bangsa, diantaranya adalah kenakalan remaja, tauran, korupsi yang dilakukan oleh para pejabat negara. Salah satu faktor penyebab timbulnya kenakalan remaja, karena kurangnya perhatian dari kedua orang tua terhadap anaknya, utamanya pembinaan akhlak. Pembinaan akhlak adalah mutiara hidup yang membedakan manusia dan hewani. Manusia tanpa akhlak akan hilang derajat kemanusiaannya sebagai mahkluk mulia, sesuai dengan fitrah, dan yang memiliki peran sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi. Oleh karena itu, nilai-nilai akhlak harus ditanamkan sejak dini baik melalui pendidikan keluarga, masyarakat, maupun lembaga pendidikan formal yaitu sekolah.

            Suatu bangsa akan jaya dan terkenal bukan ditentukan oleh keluasan wilayah, kekayaan sumber daya alam, serta kuantitas penduduknya, akan tetapi adalah karena kualitas akhlak atau tingginya nilai nilai peradaban yang dimilikinya. Integritas, dedikasi, kredibilitas dan kualitas keilmuan populasi yang ada pada suatu Negara akan menyebabkannya terkenal dan mampu menghadapi tantangan jaman yang serba global. Dalam konteks inilah, justru Nabi Muhammad sebagai Rasul terakhir diutus agar Mampu menyempurnakan akhlak manusia. Dalam khazanah keilmuan, dikenal Beberapa istilah berkenaan dengan akhlak, di antaranya; etika, moral dan akhlak itu sendiri.

B.     Rumusan Masalah

1.      Bagaimana pengertian etika, moral dan akhlak, ruang lingkup dan tujuannya?

2.      Bagaimana urgensi etika dan faktor-faktor yang mempengaruhi etika?

3.      Bagaimana hubungan etika dan bisnis serta pertingnya etika bisnis?

C.    Tujuan

1.      Untuk mendeskripsikan pengertian etika, moral dan akhlak, ruang lingkup dan tujuannya.

2.      Untuk mendeskripsikan urgensi etika dan faktor-faktor yang mempengaruhi etika.

3.      Untuk mendeskripsikan hubungan etika dan bisnis serta pentingnya etika bisnis.

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Pengertian Etika, moral, dan akhlak, ruang lingkup dan tujuannya

            Secara etimologi etika berasal dari bahasa Yunani, ethos-watak. Kata "ethos" ini mengandung makna bahwa semua batasan atau definisi etika membicarakan masalah baik dan buruk, bermoral dan tidak bermoral. susila dan tidak susila dari perbuatan atau tingkah laku manusia.

Secara terminologis, ada dua pengertian etika:

1.      Etika adalah adab atau akhlak atau moral, yakni sebagai kumpulan aturan/ajaran tentang cara berperilaku. Adab berasal dari kata addaba, yakni mendidik, melatih disiplin, memperbaiki, mengambil tindakan, sopan, berbudi baik.

2.      Etika adalah filsafat moral (filsafat tentang moral) atau ilmu tentang moralitas, sehingga bagian dari aspek aksiologis.

            Etos adalah sikap dasar, ciri-ciri, dan penilaian seseorang atau se-kelompok orang, terhadap suatu kegiatan tertentu, contoh: etos belajar, orang dinilai bersikap giat atau malas-malasan; orang dinilai pandang-annya tentang belajar, apakah sebagai beban atau aktualisasi diri. Ketika mahasiswa belajar setiap hari saat sebelum dan sesudah perkuliahan, perilaku ini dinilai sebagai etos aktualisasi diri/etos kerja yang baik. Jika mahasiswa belajar karena besoknya ujian, maka perilaku ini dianggap sebagai beban.

            Etis (etik) adalah tindakan yang berhubungan dengan tanggung ja-wab moral, asas-asas, dan nilai-nilai tentang yang dianggap baik atau yang buruk, misalnya perbuatannya tidak etis atau perbuatannya etis. Dengan kata lain, suatu perbuatan dianggap tidak etis jika perbuatan itu melanggar aturan aturan moral. Contoh: Wartawan melanggar kode etik jurnalistik maka dianggap tidak etis.

            Etika memiliki ruang lingkup yang sangat luas dan mencakup berbagai aspek kehidupan. Ruang lingkup etika dapat dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu:

1.      Etika Personal: Etika personal berkaitan dengan perilaku dan keputusan individu dalam kehidupan sehari-hari. Etika personal mencakup aspek-aspek seperti kejujuran, integritas, dan tanggung jawab.

2.      Etika Profesional: Etika profesional berkaitan dengan perilaku dan keputusan individu dalam konteks profesional. Etika profesional mencakup aspek-aspek seperti keahlian, kompetensi, dan tanggung jawab profesional.

3.      Etika Bisnis: Etika bisnis berkaitan dengan perilaku dan keputusan organisasi bisnis dalam konteks bisnis. Etika bisnis mencakup aspek-aspek seperti kejujuran, transparansi, dan tanggung jawab sosial.

4.      Etika Politik: Etika politik berkaitan dengan perilaku dan keputusan individu dan organisasi dalam konteks politik. Etika politik mencakup aspek-aspek seperti kejujuran, transparansi, dan tanggung jawab publik.

            Tujuan etika adalah untuk memberikan pedoman dan standar untuk perilaku dan keputusan individu dan organisasi. Tujuan etika juga mencakup meningkatkan kepercayaan, kualitas, tanggung jawab, dan kesejahteraan dalam kehidupan sehari-hari.(Rachmat Kriyantono 2019)

            Moral secara etimologi, Moral berasal dari bahasa latin yakni mos (jamak: mores) yang berarti kebiasaan, adat. Kata mos (mores) dalam bahasa latin sama artinya dengan etos dalam bahasa Yunani Secara umum, pengertian moral adalah suatu hukum perilaku yang diterapkan kepada setiap individu dalam bersosialisasi dengan sesamanya sehingga terjalin rasa hormat dan menghormati antar sesama.

            Di dalam bahasa Indonesia sendiri, kata moral diterjemahkan dengan aturan kesusilaan ataupun istilah yang digunakan untuk menentukan sebuah batas-batas dari sifat peran lain, kehendak, pendapat atau batasan perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik maupun buruk. Seseorang dinamakan bermoral apabila, orang tersebut telah mematuhi nilai-nilai dan norma-norma yang dipegangi oleh masyarakat yang menilainya.(Andi Widhia Putra 2020)

            Secara etimologi, kata akhlaq berasal dari bahasa Arab yang merupakan jamak dari kata khuluq, yang berarti adat kebiasaan, perangai, tabiat, dan muru'ah. Dengan demikian, secara etimologi, akhlak dapat diartikan sebagai budi pekerti, watak, tabiat. Dalam bahasa Inggris, istilah ini sering diterjemahkan sebagai character.

            Menurut Ibnu Al-Jauzi (w. 597 H), al-khuluq adalah etika yang dipilih seseorang. Disebut khuluq, karena etika bagaikan khalqah, atau biasa dikenal dengan istilah karakter pada diri. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa khuluq, adalah etika yang menjadi pilihan dan diusahakan oleh seseorang. Adapun etika yang sudah menjadi tabiat bawaan, disebut al-khaym.

                Meskipun seringkali akhlak dengan etika atau moral dianggap sama, sesungguhnya kata akhlak lebih luas cakupannya dibanding etika atau moral, yang sering digunakan dalam bahasa Indonesia. Akhlak meliputi segi-segi kejiwaan dari tingkah laku seseorang, secara lahirias dan hatiniah.

            Ruang lingkup akhlak dalam pandangan syariat Islam sangat luas. Akhlak tidak hanya membahas masalah etika pergaulan dan sopan santun saja, tetapi meliputi pola pikir, selera, pandangan, sikap, perilaku, kecenderungan, dan keinginan yang ada pada seseorang.

            Dalam Islam, akhlak mempunyai ruang lingkup yang lebih luas. Selain terkait dengan muamalah, akhlak dalam Islam juga meliputi masalah ibadah, sosial, hukum, dan lain-lain. Salah satu contohnya, yaitu akhlak terhadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Misalnya, adanya kewajiban menjalankan rukun Islam dan rukun iman. Ketika sudah melaksanakan syahadat, shalat, dan puasa, berarti kita dikatakan berakhlak terhadap Allah Ta'ala.(Amin 2016)

B.     Urgensi Etika dan faktor-faktor yang mempengaruhi etika

            Etika merupakan suatu konsep yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam konteks personal maupun profesional. Urgensi etika dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu:

1.      Meningkatkan Kepercayaan: Etika membantu meningkatkan kepercayaan antara individu dan organisasi, serta antara organisasi dan masyarakat. Kepercayaan yang tinggi dapat membantu meningkatkan kualitas hubungan dan kerja sama.

2.      Meningkatkan Kualitas: Etika membantu meningkatkan kualitas perilaku dan keputusan individu dan organisasi. Kualitas yang tinggi dapat membantu meningkatkan efisiensi dan efektifitas kerja.

3.      Meningkatkan Tanggung Jawab: Etika membantu meningkatkan tanggung jawab individu dan organisasi terhadap keputusan dan perilaku mereka. Tanggung jawab yang tinggi dapat membantu meningkatkan akuntabilitas dan transparansi.

4.      Meningkatkan Kesejahteraan: Etika membantu meningkatkan kesejahteraan individu dan masyarakat. Kesejahteraan yang tinggi dapat membantu meningkatkan kualitas hidup dan mempromosikan keadilan sosial.

  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Etika

                   Etika merupakan suatu konsep yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam konteks personal maupun profesional. Etika dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perilaku dan keputusan individu dan organisasi. Beberapa faktor yang mempengaruhi etika.

       Faktor Internal

                   Faktor internal yang mempengaruhi etika antara lain nilai dan keyakinan, pendidikan dan pelatihan, serta kepribadian. Nilai dan keyakinan individu dapat mempengaruhi perilaku dan keputusan etis. Individu yang memiliki nilai dan keyakinan yang kuat cenderung memiliki perilaku etis yang lebih baik. Pendidikan dan pelatihan juga dapat mempengaruhi kemampuan individu untuk membuat keputusan etis. Individu yang memiliki pendidikan dan pelatihan yang baik cenderung memiliki kemampuan membuat keputusan etis yang lebih baik.

       Faktor Eksternal

                   Faktor eksternal yang mempengaruhi etika antara lain budaya dan norma sosial, tekanan dan pengaruh, serta kebijakan dan prosedur organisasi. Budaya dan norma sosial dapat mempengaruhi perilaku dan keputusan etis. Individu yang hidup dalam budaya yang memiliki norma sosial yang kuat cenderung memiliki perilaku etis yang lebih baik. Tekanan dan pengaruh dari orang lain juga dapat mempengaruhi perilaku dan keputusan etis. Individu yang memiliki tekanan dan pengaruh yang kuat dari orang lain cenderung memiliki perilaku etis yang lebih buruk.

       Faktor Organisasi

                   Faktor organisasi yang mempengaruhi etika antara lain kebijakan dan prosedur, kultur organisasi, serta kepemimpinan. Kebijakan dan prosedur organisasi dapat mempengaruhi perilaku dan keputusan etis. Organisasi yang memiliki kebijakan dan prosedur yang jelas dan kuat cenderung memiliki perilaku etis yang lebih baik. Kultur organisasi juga dapat mempengaruhi perilaku dan keputusan etis. Organisasi yang memiliki kultur yang kuat dan positif cenderung memiliki perilaku etis yang lebih baik.(Kotler, P., & Armstrong 2010)

C.    Hubungan Etika dan Bisnis serta pentingnya Etika Bisnis

            Hubungan etika dan bisnis sangat erat dan tidak dapat dipisahkan. Etika dalam bisnis merupakan suatu konsep yang mengacu pada prinsip-prinsip moral yang digunakan dalam pengambilan keputusan dan perilaku bisnis. Dalam konteks bisnis, etika dapat mempengaruhi keputusan dan perilaku perusahaan, serta dapat mempengaruhi reputasi dan kepercayaan pelanggan. Oleh karena itu, perusahaan harus memiliki budaya etis yang kuat dan harus menghormati hak-hak pelanggan, pekerja, dan lingkungan.

Etika dalam bisnis juga dapat meningkatkan kepercayaan pelanggan terhadap perusahaan. Pelanggan yang percaya pada perusahaan cenderung lebih loyal dan lebih mungkin untuk melakukan pembelian

ulang. Selain itu, etika dalam bisnis juga dapat meningkatkan reputasi perusahaan. Perusahaan yang memiliki reputasi baik cenderung lebih mudah untuk menarik pelanggan dan investor. Oleh karena itu, perusahaan harus memprioritaskan etika dalam bisnis untuk meningkatkan kepercayaan pelanggan dan reputasi perusahaan.

            Dalam praktiknya, etika dalam bisnis dapat diwujudkan dalam berbagai cara, seperti kejujuran dalam iklan, pengungkapan informasi yang relevan, penghormatan hak-hak pekerja, dan pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab. Perusahaan juga harus memiliki kebijakan dan prosedur yang jelas dan kuat untuk mengatur perilaku etis dalam bisnis. Dengan demikian, perusahaan dapat meningkatkan kepercayaan pelanggan, reputasi perusahaan, dan kinerja perusahaan, serta mengurangi risiko yang terkait dengan perilaku tidak etis.

                Tujuan etika bisnis adalah menggugah kesadaran moral dan memberikan batasan-batasan para pelaku bisnis untuk menjalankan good business dan tidak melakukan monkey business atau dirty business yang bisa merugikan banyak pihak yang terkait dalam bisnis tersebut. Etika bisnis mengajak para pelaku bisnis mewujudkan citra dan manajemen bisnis yang baik (etis) agar bisnis itu pantas dimasuki oleh semua orang yang mempercayai adanya dimensi etis dalam dunia bisnis. Hal ini sekaligus menghalau citra buruk dunia bisnis sebagai kegiatan yang kotor, licik, dan tipu muslihat.

            Kegiatan bisnis mempunyai implikasi etis, dan oleh karenanya membawa serta tanggungjawab etis bagi pelakunya. Etika Bisnis adalah seni dan disiplin dalam menerapkan prinsipprinsip etika untuk mengkaji dan memecahkan masalah-masalah moral yang kompleks. Etika bisnis merupakan etika khusus (terapan) yang pada awalnya berkembang di Amerika Serikat. Sebagai cabang filsafat terapan, etika bisnis menyoroti segi-segi moral perilaku manusia dan peraturanperaturan yang mempunyai profesi di bidang bisnis dan manajemen. Oleh karena itu, etika bisnis dapat dilihat sebagai usaha untuk merumuskan dan menerapkan prinsip-prinsip etika dibidang hubungan ekonomi antar manusia.(Durin 2020)

 

BAB III

PENUTUP

SIMPULAN

            Etis (etik) adalah tindakan yang berhubungan dengan tanggung jawab moral, asas-asas, dan nilai-nilai tentang yang dianggap baik atau yang buruk, misalnya perbuatannya tidak etis atau perbuatannya etis. Moral adalah suatu hukum perilaku yang diterapkan kepada setiap individu dalam bersosialisasi dengan sesamanya sehingga terjalin rasa hormat dan menghormati antar sesama. Secara etimologi, kata akhlaq berasal dari bahasa Arab yang merupakan jamak dari kata khuluq, yang berarti adat kebiasaan, perangai, tabiat, dan muru'ah. Dengan demikian, secara etimologi, akhlak dapat diartikan sebagai budi pekerti, watak, tabiat. Dalam bahasa Inggris, istilah ini sering diterjemahkan sebagai character.

            Menurut Ibnu Al-Jauzi (w. 597 H), al-khuluq adalah etika yang dipilih seseorang. Disebut khuluq, karena etika bagaikan khalqah, atau biasa dikenal dengan istilah karakter pada diri. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa khuluq, adalah etika yang menjadi pilihan dan diusahakan oleh seseorang. Adapun etika yang sudah menjadi tabiat bawaan, disebut al-khaym.

            Urgensi etika dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu: Meningkatkan Kepercayaan, Meningkatkan Kualitas, Meningkatkan Tanggung Jawab, Meningkatkan Kesejahteraan. Beberapa faktor yang mempengaruhi etika yaitu faktor internal, faktor eksternal dan faktor organisasi.

            Hubungan etika dan bisnis sangat erat dan tidak dapat dipisahkan. Etika dalam bisnis merupakan suatu konsep yang mengacu pada prinsip-prinsip moral yang digunakan dalam pengambilan keputusan dan perilaku bisnis. Tujuan etika bisnis adalah menggugah kesadaran moral dan memberikan batasan-batasan para pelaku bisnis untuk menjalankan good business dan tidak melakukan monkey business atau dirty business yang bisa merugikan banyak pihak yang terkait dalam bisnis tersebut. Etika bisnis mengajak para pelaku bisnis mewujudkan citra dan manajemen bisnis yang baik (etis) agar bisnis itu pantas dimasuki oleh semua orang yang mempercayai adanya dimensi etis dalam dunia bisnis. Hal ini sekaligus menghalau citra buruk dunia bisnis sebagai kegiatan yang kotor, licik, dan tipu muslihat.

 

DAFTAR PUSTAKA

Amin, Samsul Munir. 2016. ILMU AKHLAK. Jakarta: AMZAH.

Andi Widhia Putra. 2020. MEMBANGUN MORAL DAN ETIKA SISWA SEKOLAH DASAR. Madiun: CV. Bayfa Cendekia Indonesia.

Durin, Ramzi. 2020. “Arti Penting Menjalankan Etika Dalam Bisnis.” Jurnal Valuta 6(1): 32–40.

Kotler, P., & Armstrong, G. 2010. Prinsip Pemasaran. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Rachmat Kriyantono. 2019. PENGANTAR LENGKAP ILMU KOMUNIKASI Filsafat Dan Etika Ilmunya Serta Perspektif Islam. Jakarta: PRENADAMEDIA GROUP.

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ETIKA ISLAM DALAM BIDANG KONSUMSI, PRODUKSI DAN DISTRIBUSI

KONSEP PELAYANAN PRIMA DALAM PANDANGAN ISLAM, MANFAAT DAN KUALITAS PELAYANAN

ETIKA PERSAINGAN DAN MEMBANGUN JARINGAN USAHA